Bukit Plirikan dan Waduk Tandon dijadikan tempat wisata di Desa Pare

Indahnya, Berfoto Selfie di Atas Menara Pandang Gunung Plirikan

DESA PARE – Belum ada satu bulan diresmikan, menara pandang Gunung Plirikan sudah ramai didatangi pengunjung. Menara pandang ini terletak di Dusun Susukan, Desa Pare, Kecamatan Wonogiri.

“Setelah didaulat sebagai Desa Wisata, Pemerintah Desa (Pemdes) Pare, berusaha untuk menambah spot wisata yang bisa menarik minat wisatawan untuk berkunjung,” kata Kepala Desa Pare, Sugeng, Minggu (12/11/2017).

Di Desa Pare terdapat 2 gardu menara pandang yang bisa memanjakan mata para wisatawan, yaitu di Dusun Susukan dan Dusun Traman.

“Dua dusun tersebut memang sangat apik bila dipasang gardu menara pandang, pasalnya berada di atas, dengan pemandangan nan elok,” imbuhnya.

Terbukti, setiap Minggu terdapat ratusan wisatawan berkunjung ke menara pandang yang terletak di Dusun Susukan. Walaupun letaknya berada jauh dari kota, namun peminatnya juga cukup banyak.

“Setiap hari selalu ada yang datang. Bahkan kalau minggu bisa mencapai 150 wisatawan. Dan belum diadakan penarikan tiket, hanya kasih seikhlasnya saja,” lanjutnya.

Selaku Pemdes setempat, ia akan berusaha untuk memperkenalkan wisata yang ada di desanya melalui media sosial agar bisa digunakan untuk peningkatan nilai ekonomi warga. ( sumber  : wonogiri.sorot.co pada Minggu, 12 November 2017 18:04:00 WIB )

Warga Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, sedang merintis objek wisata baru di Bukit Plirikan. Mereka membangun beberapa menara pandang agar pengunjung bisa menikmati panorama alam perbukitan di desa tersebut.

Bahkan, salah satu menara dibuat bertingkat tiga. Kepala Desa Pare Sugeng mengatakan, wisata di puncak Bukit Plirikan itu telah dirintis warga sejak tiga bulan lalu. Mereka membangun dua menara pandang, gubuk, tempat selfie, taman, hingga ayunan anakanak. “Wisatanya baru dirintis sementara oleh warga desa,” katanya, Kamis (8/2).

Tempat wisata itu menempati tanah desa di puncak bukit Dusun Susukan dengan luas sekitar 4.000 meter persegi. Adapun sekelilingnya merupakan tanah milik warga. Dari puncak bukit itu, pengunjung bisa melihat panorama alam perbukitan di wilayah Kecamatan Selogiri dan sekitarnya. Mereka juga dapat melihat Waduk Tandon atau Bendungan Krisak di bawahnya. Bahkan, pengunjung bisa menikmati matahari yang terbit dan terbenam dari balik punggung-punggung bukit Pegunungan Seribu. Meskipun baru dirintis, Bukit Plirikan sudah banyak dikunjungi warga, terutama setiap Sabtu dan Minggu. Jumlah pengunjung setiap akhir pekan bisa mencapai ratusan orang ketika cuaca cerah. Jika wisatanya berkembang, Bukit Plirikan kelak dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pare Maju. Sugeng menambahkan, puncak Bukit Plirikan menyimpan sejarah tersendiri. Konon, puncak bukit itu dijadikan sebagai lokasi pengintaian oleh pejuang kemerdekaan. “Kata orang tua zaman dahulu, para pejuang bermarkas di desa kami dan puncak Bukit Plirikan dipakai untuk mengawasi pergerakan tentara Belanda. Mereka menggunakan batang bambu sebagai kode. Kalau Belanda bergerak ke selatan, bambunya dimiringkan ke selatan. Kalau ke utara, bambunya dimiringkan ke utara,” terangnya.

Ratna, pengunjung, warga Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, berpendapat, Bukit Plirikan potensial jadi objek wisata. Pemandangannya bagus karena bisa melihat deretan perbukitan dan Waduk Tandon. ( sumber : www.suaramerdeka.com)

Komentar Facebook

You may also like...

Leave a Reply