Bukit Plirikan, Wahana Wisata di Desa Pare

DESA PARE – Bukit Plirikan, adalah wahana wisata yang ada di Desa Pare, tepatnya terletak di Dusun Susukan, Desa Pare, Kecamatan Selogiri. Pada saat ini sedang di rintis dan dilakukan pembenahan – pembenahan untuk mempercantik panorama yang begitu indah di Bukit Plirikan, Desa Pare. Jaraknya tak jauh dari Pusat Kota Wonogiri, kira2 8 km dan sekitar 3 km dari Kantor Desa Pare. Tempatnya berupa sebuah Perbukitan dan di atas bukit itulah sedang di benahi dan di tata untuk tempat istirahat dan ada wahana untuk berfoto selfie. Ada menara pandang yang cukup menjulang tinggi, sekitar 5 meter ketinggiannya dari permukaan tanah, ada beberapa property untuk selfie, semacam tampilan di Facebook dan di Twiter maupun Instagram. Kemudian ada beberapa pohon Jambu yang di atas pohon telah di buatkan semacam rumah pohon, yang sangat enak dan sejuk untuk beristirahat. Juga sudah banyak di sediakan ayunan bagi anak2 balita maupun bisa juga di gunakan untuk orang2 yang sudah dewasa. Di tempat ini telah di tanami berbagai tanaman hias, yang tentunya kalau semua sudah hidup akan menambah keasrian dan keindahan panorama alam di Bukit Plirikan.
Kenapa bukit ini di namakan Bukit Plirikan, ternyata bukit ini punya riwayat tersendiri, dan boleh dikatakan bahwa Bukit Plirikan ini punya nilai sejarahnya. Karena pada pagi hari tadi, telah di adakan Kegiatan HPSN ( Hari Peduli Sampah Nasional ) di Bukit Plirikan. Dan kebetulan Seorang tokoh masyarakat, sekaligur sesepuh dari Dusun Susukan, mBah Sukiyo, yang juga mantan Kadus Dusun Susukan telah berkenan membeberkan menceritakdan tentang sejarah Bukit Plirikan. Beliau bercerita “Niki dek jaman Londo Perang Londo, niki ngge jaga bendina, nyepakke mpring di degne, mengke nek Landane jungsad neng ndi kuwi, nek ngulon mpringe di rubuhne ngulon,nek ngidul di rubuhne ngidul, iki sing nemokne malah kepolisian hli iki, tentara – tentara karo polisi. Ngono kuwi sejarahe, wong aku wis gedhe kok mbiyen. Mula jenenge Plirikan ki nggo nglirik mungsuh kuwi, sejarahe ngono kuwi. Nggo nginceng, dadi yen Londo jungsad ko kono kan ngerti parane, mpringe di degne, trus di mbrukne nyang ndi parane.
Ini pada jaman Belanda, Perang Belanda, disini di pakai untuk berjaga tiap hari, menyiapkan bambu yang di tegakkan, kalau Belanda jalan dari arah timur ke barat, bambu di robohkan ke barat, kalau ke arah selatan, bambu di robohkan ke selatan. Ini yang menemukan justru Polisi, tentara dan polisi. Begitu sejarahnya, saya kan sudah besar. Makanya dinamakan Plirikan ini buat ngintip/nglirik musuh itu, begitu sejarahnya. Buat ngintip, jadi kalau Belanda dari arah sana kan tahu mau ke arah mana. Bambu di tegakkan, trus dirobohkan kemana arah tujuan Belanda jalan (red).
Demikian

sejarah yang secara singkat di cerikan oleh mbah Sukiyo. Konon karena tempatnya tinggi, sehingga bisa dengan mudah mengintip musuh dari tempat itu. Bambu

yang di gunakanpun cukup panjang / tinggi. Sehingga bisa dengan mudah dilihat para warga. Pada jaman dahulu memang belum ada alat komunikasi yng cangggih seperti pada saat sekarang ini. Sehingga bambu itu yang digunakan sebagai tanda dan sebagai sarana komunikasi pada masa perang di jaman Belanda dahulu.(Admin)

 

 

Berikut ini dokumentasi Bukit Plirikan :

Komentar Facebook

You may also like...

Leave a Reply