Ibu-ibu Jamaah Masjid Nurani Dusun Traman Belajar Membaca Al-qur’an

PARE, | pare.desa.id | – Pada sore hari ini, Rabu (25/04/2018) bertempat di Masjid Nurani Dusun Traman, ibu–ibu jamaah Masjid Nurani Dusun Traman mengikuti pengajian dengan belajar membaca Al-qur’an. Pengajian ini baru dilaksanakan pertama kali setelah bertahun-tahun fakum tidak ada kegiatan pengajian bagi ibu – ibu. Setelah mendapatkan arahan serta kesepakatan bersama agar Masjid Nurani dusun Traman bisa makmur, maka dimulailah pengajian atau belajar bersama membaca Al-qur’an. Namun karena ibu – ibu ini rata – rata sudah paruh baya, dan belum semua bisa membaca Al-qur’an, untuk  mengawali pengajian ini dimulai dari berlatih membaca buku Iqra’ jilid 1.

pengajian ibu-ibu

Ita Isdiyanti membimbing ibu-ibu membaca Iqra’. (doc. desa.id Foto: Mariyanto)

Pada pengajian ini karena dari warga atau jamaah masjid Nurani Dusun Traman belum ada yang mampu mengajar, maka oleh Mariyanto yang juga salah satu takmir masjid Nurani Dusun Traman meminta tolong kepada Ita Isdiyanti dari KUA Kecamatan Selogiri untuk membimbung dan mengajar membaca Al-qur’an bagi ibu-ibu. Kegiatan diawali dengan Shalat ‘Ashar berjamaah, dan sekira pukul 15.30 WIB dimulai belajar membaca Iqra’. Ita Isdiyanti datang tidak sendiri, dia mengajak suaminya, Mahmud Mustofa Rohman, karena untuk naik ke dusun Traman yang letaknya cukup tinggi dia tidak berani sendiri. Suami Ita Isdiyanti, Mahmud Mustofa Rohman juga ikut mengajar, sehingga peserta pengajian di jadikan 2 kelompok dari jumlah ibu-ibu yang hadir sekitar 20 an orang.

pengajian ibu-ibu

Ita Isdiyanti memberikan contoh dengan menulis huruf hijaiyah di papan tulis.(doc. desa.id Foto: Mariyanto)

Ibu-ibu terlihat begitu antusias dan bersemangat dalam mengikuti pengajian. Rasa ingin bisanya sangat luar biasa, terbukti dari pernyataan ibu-ibu yang tadinya banyak yang sama sekali belum pernah belajar huruf-huruf Hijaiyah dan sama sekali belum tahu nama-nama huruf hijaiyah, setelah diajari dan dilatih oleh Ita Isdiyanti dan Mahmud Mustofa Rohman, ibu-ibu sudah bisa membaca 4 huruf hijaiyah. Dengan usianya yang sudah cukup umur ini, bisa membaca 4 huruf hijaiyah sudah merupakan kemajuan hal yang luar biasa.

pengajian ibu-ibu

Mahmud Mustofa Rohman membimbing ibu-ibu di kelompok 2 membaca Iqro’. (doc. desa.id Foto: Mariyanto)

Untuk pengajian perdana kali ini diakhiri kira-kira pada pukul 17.00 WIB. Selesai pengajian oleh Mariyanto diadakan sarasehan sebentar, dan pada sarasehan itu Mariyanto bertanya pada ibu-ibu, “pripun bu, rasane cepet napa dangu pengajian niki wau ..?” jawab ibu-ibu, “cepet banget pak” sekelumit dialog tersebut menandakan bahwa ibu-ibu senang,sangat antusias dan masih kepangin dilanjutkan belajar membaca al-qur’an lagi pada minggu-minggu berikutnya. Karena kegiatan ini di agendakan pengajian rutin 1 minggu 1 kali. Ini juga sesuai yang diungkapkan Ita Isdiyanti waktu Mariyanto menanyakan kesan dan tanggapannya setelah naik gunung ke Dusun Traman dan mengajari ibu-ibu belajar membaca Al-qur’an. “Naiknya mas,,,sik kudu diasah keberaniannya,,kalau ibu-ibunya itu seneng lihatnya pada semangat” demikian ungkap Ita Isdiyanti. Demikian juga yang diungkapkan Mahmud Mustofa Rohman, “Alhamdulillah sae pak,,,ibu-ibu semangat, mugi-mugi saget istiqomah”

Selain kegiatan ini, Masjid Nurani Dusun Traman juga merintis pengajian rutin 1 minggu sekali pada tiap hari Kamis malam Jum’at, waktunya ba’da ‘Isya. Pada pengajian ini yang mengikuti masih campuran, yaitu jamaah laki-laki dan perempuan. Untuk sementara ini yang mengisi adalah Mariyanto salah satu ta’mir masjid. Dan untuk membikin suasana berbeda, pada Kamis tanggal 19 April 2018, pengajian di isi Asfari, Petugas KUA Kecamatan Selogiri.

pengajian rutin

Asfari menyampaikan tausiahnya pada hari Kamis, 19 April 2018. (doc. desa.id Foto: Mariyanto)

Asfari menyampaikan tentang mengilmui islam, mengamalkan islam, mendakwahkan islam. menyampaikan tawasaubil haq, menyampaikan kebenaran. Iman itu dibuktikan di qalbu. Orang islam yg pertama harus syahadat. Asyhadu, saya bersaksi tiada tuhan selain allah. Bergantung pada allah, kembalinya semua hanya kepada Allah. Seorang  muslim harus mengilmui islam.

Asfari juga mengungkapkan, “Di katakan sudah mengilmui Islam, harus bisa shalat, ditindakke kanthi sae, pun sae, di khusyukkan, dereng saget ajeg, diajeg ke. boten saget maos al quran belajar, pun saget, di takhsin, diperbaiki, pun saget, diperbaiki lagi, diketahui artinya, dipelajari ilmunya, mpun, hebat. Itu fungsi majlis taklim”. (admin)

Komentar Facebook

You may also like...

Leave a Reply