PERANGKAT DESA PARE IKUTI PELATIHAN TEKNIK MENULIS BERITA

Pare, pare.desa.id – Pemerintah Desa Pare bekerja sama dengan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Negeri Yogyakarta (KKN UNY) menyelenggarakan Pelatihan Teknik Menulis Berita, Selasa (21/8). Bertempat di Ruang Pertemuan Desa Pare, kegiatan dibuka Kepala Desa Pare, Sugeng, dan diikuti 12 peserta dari perangkat desa dan tokoh masyarakat, serta 1 peserta dari luar desa yaitu Agung Susanto, SE, Sekretaris Desa Sendang sekaligus Operator SID Desa Sendang, Wonogiri.

Pelatihan teknik menulis berita

Sugeng, Kepala Desa Pare menyampaikan sambutan pada acara pelatihan, Selasa (21/08). (doc. pare.desa.id – Foto : Mariyanto)

Sebagai pemateri, Maria Purbandari dalam paparannya mengutip teori Jacob Oetama, yaitu berita bukan fakta, namun laporan tentang fakta. “Fakta yang layak menjadi berita adalah fakta yang mengandung nilai berita (news value),” jelasnya.

Pelatihan teknik menulis berita

Maria Purbandari Mahasiswa KKN UNY menyampaika materi pelatihan, Selasa (21/08). (doc, pare.desa.id – Foto : Mariyanto)

Dalam sambutan, Kepala Desa berharap setelah selesainya pelatihan perangkat desa dapat menyampaikan informasi dengan baik dan benar, serta dapat diterima masyarakat sehingga menjadi konsumsi bermanfaat. “Apalagi Desa Pare menjadi salah satu desa pilot project sistem informasi desa di Wonogiri, maka tampilan dan isi berita harus sesuai kaidah menulis,” tuturnya.

Pelatihan teknik menulis berita

Peserta pelatihan terdiri dari Perangkat Desa dan Tokoh masyarat sedang menerima penjelasan tentang bagimana teknik menulis yang baik dan benar, Selasa (21/08)(doc. pare.desa.id – Foto : Mariyanto)

Dalam menyajikan berita atau informasi kepada public, saat ini perlu teknik-teknik tertentu agar berita yang disajikan bisa mudah diterima dan dipahami oleh pembaca. Maka diterapkanlah pola piramida terbalik. Dalam pola piramida terbalik, inti dari berita itu di sampaikan pada paragraph pertama dan utama. Untuk paragraph selanjutnya berisi tentang penjabaran dan tambahan informasi saja. Kenapa diterapkan pola piramida terbalik, karena orang atau warga masyarakat sekarang ini membacanya cuma sekilas. Sehingga perlu penegasan inti berita di paragraph pertama. (admin/mar/mp3/kkn)

Komentar Facebook

You may also like...

Leave a Reply