JEMBATAN NUSANTARA

PARE, pare.desa.idBupati Wonogiri, Joko Sutopo (Mas Jekek panggilan akrabnya), meresmikan Jalan Lingkar Kota dan Jembatan yang dibangun di wilayah Desa Pare.  “Bismillaahirrahmaanirrahiim, mohon ridla dan karunia dari Allaah SWT, jembatan Jalan Lingkar Kota ini saya beri nama Jembatan Nusantarademikian kata – kata Joko Sutopo saat meresmikan Jalan Lingkar Kota, sekaligus memberikan nama Jembatan yang dibangun tepatnya sebelah barat Dusun Tangkluk, Desa Pare pada Senin (17/02/2020). Pada hari itu juga bertepatan dengan tanggal saat pelantikan Bupati yaitu 17/02/2016, sehingga masa pemerintahan Joko Sutopo sebagai Bupati Wonogiri genap berusia 4 tahun. Undangan yang hadir pada acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pekerjaan Umum itu lebih dari 1000 orang yang terdiri dari Bupati Wonogiri beserta Ibu Drh. Verawati Joko Sutopo, M.Sc dan ananda, Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Wonogiri, Kepala DPU, Para Pimpinan OPD, Camat Selogiri beserta Forkompimcam, Kepala Desa dan Lurah beserta Perangkat Desa se-Kecamatan Selogiri, serta warga masyrakat Desa Pare, Keloran dan Singodutan.

Walaupun hujan, para tamu undangan sangat antusias menghadiri acara Peresmian JLK dan Jembatan. (Foto : Mariyanto)

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo saat memberikan sambutan. (Foto : Mariyanto)

Menurut Joko Sutopo, Jembatan Jalan Lingkar Kota yang dibangun di wilayah Desa Pare ini dinamakan Jembatan Nusantara, karena jembatan itu adalah aset bangsa, yang dibangun dengan menggunakan dana dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten. Kemudian untuk keindahan jembatan di cat dengan warna merah putih, karena kita adalah Indonesia. Dan menurut mas Jekek, sebelum ada Indonesia, adalah Nusantara. Jembatan tersebut merupakan representasi, dari komitmen, dari keberagaman, dari keikhlasan, dari wujud kebersamaan.

Istri Bupati Wonogiri, Drh. Verawati Joko Sutopo, M.Sc. saat menggunting pita tanda dibukanya akses Jalan Lingkar Kota untuk umum. (Foto : Mariyanto)

Mengawali acara itu dilaksanakanlah pemotongan pita oleh Drh. Verawati Joko Sutopo, M.Sc untuk menandai bahwa Jalan Lingkar Kota sudah resmi dibuka untuk umum. Dengan dibukanya jalan tersebut diharapkan bisa mengurai kepadatan arus lalu lintas kendaraan di Kota Wonogiri. Kemudian dilanjutkan penandatanganan Prasasti Jembatan Nusantara oleh Bupati Wonogiri, Joko Sutopo.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo saat menandatangani Prasasti Jembatan Nusantara. (Foto : Mariyanto)

Prasasti Jembatan Nusantara. (Foto : Mariyanto)

Dalam laporannya, Assisten Prekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Wonogiri, Bambang Haryadi, SH., MM. bahwa, Jalan Lingkar Kota dirintis sejak tahun 2010. Proses pembangunan jalan sempat terhenti di tahun 2018, namun bisa terselesaikan dengan tuntas pada tahun 2019 dengan panjang 5,033 KM, total anggaran 56,126 Milyard, berasal dari Banprov 41,126 Milyard, dan dari DAU 14,963 Milyard. Seluruh Jalan Lingkar Kota mulai dari Desa Bulusulur sampai dengan Desa Singodutan dengan panjang 15,594 KM yang terbagi terdiri dari 2 segmen yaitu, segmen pertama dari Desa Bulusulur sampai Lingkungan Pencil dengan panjang 8,770 KM, dan segmen ke dua dari utara Polres Wonogiri sampai dengan Desa Singodutan dengan panjang 6,824 KM. Pada segmen ke dua ini dikerjakan 3 tahap, yaitu tahap pertama dengan dana Banprov sebesar 24 Milyard sepanjang 1,920 KM, tahap ke dua juga dengan dana Banprov sebesar 17,162 Milyard sepanjang 1,770 KM, dan untuk tahap ke tiga dari dana APBD sebesar 14,963 Milyard dengan panjang jalan 1,434 KM. Kemudian untuk pembangunan Jembatan Nusantara yang terletak di Desa Pare menelan dana sebesar 4,647 Milyard.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Wonogiri, Bambang Haryadi, SH., MM. saat menyampaikan laporan. (Foto : Mariyanto)

Para pedagang kaki lima sedang menjajakan dagangannya. (Foto : Mariyanto)

Sejak selesainya pembangunan jembatan tersebut langsung viral di Media Sosial karena keindahannya dan merupakan jembatan terbaik di Kabupaten Wonogiri. Tiap banyak pengunjung yang berdatangan berfoto selfie di jembatan itu, sehingga menarik minat para pedagang kaki lima untuk menjajakan dagangannya. Hingga berita ini diterbitkan, pengunjung yang datang berasal dari berbagai daerah, baik lokal maupun luar kabupaten. Begitupun pedagang kaki lima yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, selain dari lokal / lingkungan jembatan, banyak juga yang berasal dari luar desa. Terlebih pada hari libur, Sabtu dan Minggu, Jembatan Nusantara selalu padat pengunjung. (admin)

Layaknya seorang artis yang selalu jadi idola seluruh warga masyarakat, mas Jekek di tengah kerumunan warga yang setiap ketemu pasti ingin berfoto selfie dengan beliau. (Foto : Mariyanto)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan