Sejarah Desa

Bp. SUGENG Kepala Desa Pare bersama istri

DESA PARE – Desa Pare terletak di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Wilayah tersebut tak jauh dari pusat Kota Gaplek sekitar empat-lima kilometre. Karakteristik masyarakatnya pun tak jauh berbeda dengan wilayah lain di Wonogiri. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, buruh dan pedagang. Di balik kondisi sosial ekonomi masyarakat itu, Desa Pare mempunyai riwayat yang cukup menarik. Nama desa tersebut berasal dari tanaman pare yang tumbuh mengelilingi desa tersebut pada zaman dahulu. Para warga setempat mengaitkan sejarah berdirinya desa tersebut dengan tanaman pare yang tumbuh subur di wilayah tersebut.

Kala itu, seorang kyai melintas di wilayah desa tersebut. Dia berjalan kaki menyebarkan ajaran agama Islam melalui dakwah. Kyai tersebut cukup dikenal lantaran kerap menolong warga setempat yang menderita sakit keras. “Pada zaman dahulu tanaman pare tumbuh subur, saat itu baru sedikit warga yang menanam tanaman padi,” ujar sesepuh sekaligis tokoh masyarakat (toma) Desa Pare, Slamet saat ditemui Espos, Jumat (28/2). Saat hendak berdakwah, kyai tersebut mendengar suara mengerang kesakitan yang berasal dari salah satu rumah penduduk. Sontak, dia langsung menghampiri rumah itu untuk mencari tahu sumber suara tersebut. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari seorang warga yang menderita sakit keras. Dia tergeletak di dalam rumah sambil terus mengerang kesakitan.

Tak berapa lama kemudian, kyai tersebut langsung memetik buah pare yang tumbuh di sekitar rumah tersebut. Buah pare yang dipetik sebanyak tiga biji. Kyai itu langsung memberikan buah pare kepada warga yang menderita sakit keras. “Warga yang sakit itu diminta memakan buah pare hingga habis bila ingin sakitnya sembuh total,” jelas dia. Selang beberapa jam, warga yang sakit itu merasa tubuhnya segar bugar. Rasa sakit yang dideritanya selama berbulan-bulan seketika hilang dengan memakan buah pare. Sejak kejadian itu, warga setempat sepakat memberi nama desa tersebut dengan nama PARE.

Seorang warga Desa Pare, Selogiri, Purnomo menuturkan kini hanya beberapa warga yang masih memelihara tanaman pare di halaman rumahnya. Biasanya tanaman pare merambat di pagar-pagar rumah penduduk. Selain berkhasiat sebagai obat, buah pare biasa diolah menjadi masakan oleh warga setempat.

Namun dari sumber lain, Bp. Susilo dari Dusun Pare seorang Tokoh Masyarakat, menjelaskan bahwa, terjadi pada waktu pangeran Samber Nyowo membawa kudanya ke arah timur dari Sendang Siwani.. karena jalan jurang tidak bagus, kuda di tuntun. Setelah sampai di daerah yg datar di situlah Pangeran Samber Nyowo baru bisa menaiki kudanya, istilah jawanya numpak/ tompak… sekarang tempatnya yang jadi Balai Dusun Pare, Pangeran Samber Nyowo berkata “yo kene iki suk nek enek rejaning jaman tak arani Lempare (empehe, jembare.)”, sekarang tinggal nama Lempare jadi PARE.

Tanaman pare yang tumbuh dengan subur

Buah Pare

Komentar Facebook